Setelah Muktamar: Merawat Persatuan, Menguatkan Khidmah

numangetan.or.id Jombang (31/8)

Terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU merupakan bagian penting dari perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama. Sebuah proses yang tentu tidak berhenti pada siapa yang terpilih, tetapi justru dimulai dari bagaimana amanah tersebut dijalankan untuk membawa NU semakin kuat dalam menjalankan khidmah kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Dalam setiap forum permusyawaratan organisasi, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. NU memiliki tradisi panjang dalam mengelola perbedaan melalui musyawarah. Karena itu, setelah keputusan diambil, hal yang paling penting adalah mengembalikan seluruh energi organisasi kepada tujuan yang lebih besar: menjaga jam’iyah dan menghadirkan kemaslahatan.

KH Miftachul Akhyar bukan sosok baru dalam kepemimpinan NU. Pengalaman, kapasitas keilmuan, serta kedalaman tradisi keulamaan yang beliau miliki menjadi modal penting untuk menjaga arah keagamaan NU. Rais Aam memiliki posisi strategis dalam memastikan bahwa perjalanan jam’iyah tetap berpijak pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah, tradisi keilmuan pesantren, serta prinsip tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.

Di sisi lain, kepemimpinan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU menghadirkan tanggung jawab besar dalam menggerakkan roda organisasi. NU hari ini bukan organisasi yang sederhana. Struktur dan medan khidmahnya sangat luas. Ada pesantren, madrasah, perguruan tinggi, lembaga sosial, ekonomi, kesehatan, dakwah, hingga jaringan kader yang tersebar di berbagai daerah.

Karena itu, kepemimpinan PBNU ke depan membutuhkan kemampuan konsolidasi yang kuat. PBNU harus mampu memastikan bahwa energi organisasi tidak habis untuk dinamika internal, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi warga.

Jangan Berhenti di Pusat

Bagi kami di tingkat cabang, keberhasilan kepemimpinan PBNU akan sangat terasa ketika kebijakan dan program dari pusat mampu diterjemahkan menjadi gerakan yang nyata di tingkat wilayah, cabang, MWCNU, hingga ranting.

NU memiliki kekuatan luar biasa karena mempunyai basis warga yang besar. Namun kekuatan tersebut membutuhkan konsolidasi, kaderisasi, dan tata kelola yang baik agar tidak berhenti sebagai potensi.

Kita membutuhkan NU yang semakin hadir dalam persoalan masyarakat. Ketika masyarakat menghadapi persoalan ekonomi, NU harus mampu ikut memberikan solusi. Ketika pendidikan menghadapi tantangan, lembaga-lembaga pendidikan NU harus mampu menjawabnya. Ketika generasi muda menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat, NU harus hadir dengan pendekatan dakwah yang relevan tanpa kehilangan akar tradisinya.

Di sinilah kepemimpinan baru PBNU memiliki pekerjaan besar.

NU tidak cukup hanya kuat secara struktur. NU juga harus kuat secara kultur, ilmu, kader, ekonomi, dan pelayanan sosial.

Menyatukan Kembali Energi Jam’iyah

Pasca-muktamar, pekerjaan terpenting adalah menyatukan kembali energi seluruh elemen NU. Perbedaan pilihan selama proses muktamar hendaknya tidak menjadi alasan untuk membangun sekat-sekat baru.

Kita harus membedakan antara dinamika organisasi dan perpecahan. Dinamika adalah bagian dari proses demokrasi dan musyawarah. Perpecahan adalah ketika perbedaan tersebut tidak lagi mampu dikelola dengan ukhuwah.

Karena itu, sudah saatnya seluruh warga NU kembali kepada prinsip jamaah. Mereka yang terpilih harus mendapatkan dukungan untuk menjalankan amanah. Mereka yang memiliki pandangan berbeda tetap memiliki ruang untuk memberikan masukan secara konstruktif.

Kritik diperlukan. Kontrol diperlukan. Tetapi semuanya harus diletakkan dalam kerangka menjaga marwah jam’iyah.

NU terlalu besar untuk dipertarungkan hanya dalam urusan posisi. NU didirikan oleh para ulama untuk menjaga agama, membimbing masyarakat, dan ikut merawat bangsa.

Tantangan Generasi Baru

Salah satu agenda penting ke depan adalah kaderisasi. NU membutuhkan generasi baru yang tidak hanya memahami tradisi, tetapi juga mampu membaca perubahan.

Anak-anak muda NU hidup dalam ekosistem digital. Mereka menghadapi arus informasi yang sangat cepat, perubahan pola komunikasi, perubahan ekonomi, serta tantangan sosial yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Karena itu, kaderisasi NU harus mampu mempertemukan dua hal: kedalaman tradisi dan kecakapan menghadapi zaman.

Kita tidak perlu memilih antara tradisi dan modernitas. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjadikan tradisi sebagai pijakan untuk melangkah ke masa depan.

Khidmah sebagai Ukuran

Pada akhirnya, jabatan dalam NU bukanlah tujuan. Ia adalah amanah.

Rais Aam memiliki amanah menjaga arah keulamaan. Ketua Umum memiliki amanah menggerakkan organisasi. Pengurus wilayah, cabang, MWCNU, dan ranting memiliki amanah yang sama dalam lingkup masing-masing.

Ukuran keberhasilan kepemimpinan bukan sekadar banyaknya program, tetapi seberapa jauh NU mampu memberikan manfaat.

Maka, setelah muktamar, mari kita turunkan tensi, kita kuatkan silaturahmi, dan kita besarkan kembali semangat khidmah.

Selamat kepada KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin atas amanah yang diemban.

Semoga kepemimpinan baru PBNU mampu menjaga marwah keulamaan, memperkuat jam’iyah, merawat ukhuwah, serta membawa NU semakin dekat dengan kebutuhan umat.

Karena pada akhirnya, NU bukan tentang siapa yang menang dalam sebuah forum. NU adalah tentang siapa yang bersedia terus berkhidmah setelah forum itu selesai.

Oleh: KH. Susanto Khoirul Fatwa
Ketua PCNU Kabupaten Magetan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *